hehehehehe.... rinduku padamu blogku.... punyaku... sayangku.... kekasihku...
mumpung sudah pindah ke kamar baru, maka saya akan menambahkan hal-hal baru ke dalam blogku yang tercinta ini....
Postingan akan ditambah jenisnya yakni... cerong! CERpen ONGol! Nongol! NOvel oNGOL! Serta Artingol! ARTIkel oNGOL!!! dan.... Senggol! Seksi ongol! boong, reSensi oNGOL! g- yang kedua dipaksain saja
yups... lagi semangat nulis nih! mohon doa restunya supaya isi blog tambah maju... semoga nggak berakhir di chapter 2 lagi
Sunday, October 5, 2008
Laskar Pelangi: Fantasis dan Realistis
Jujur selama hidup saya, kurang dari sepuluh kali saya masuk ke bioskop apalagi untuk nonton film Indonesia. Baru empat kali saya masuk bioskop untuk nonton film Indonesia dan Alhamdulillah tidak ada satupun yang membuat saya kecewa setelah nonton. Film Indonesia pertama yang saya nonton adalah Petualangan Sherina. Tidak pernah saya bakalan lupa betapa serunya film itu, antriannya juga! Dua hari saya mengantri di bioskop 21 sampai-sampai saya sempat nyolong-nyolong nonton Dinosaurs. Film kedua yang saya nonton itu adalah Disini Ada Setan auuuuuuhhhhh…. (Eh salah, auuuuhnya nggak ada). Film itu rada-rada bagus, serem abis bila melihat Danish (atau Dennis ya?) muncul pake baju putih rambutnya ekor kuda, eh salah mukanya putih bedakan. Terus dia ketawa-ketiwi di tengah hutan. Hiiiii…. Cukup merinding…. Bukan cukup lagi, sangat merinding! Film ketiga yang saya nonton itu adalah Realita Cinta dan Rock and Roll (cocok kan judulnya?) Ceileeee… busyeeeet! Ternyata film itu bagus banget! Junooooot! Fans kamu bakalan nambah deh! Saya rela nonton tiga kali di tivi cuman buat lihat kamu!
Oke, itu cuman sekedar pembukaan karena memang ini tidak bercerita tentang film-film itu. Saya mau mereview alias berkomen-komen ria seputar film baru buatan Riri Riza si moviemaker-nya Petualangan Sherina yang menurut saya film buatannya kali ini sukses bangeeeeeeeet!!!! Selain ceritanya bagus, pemerannya juga bagus. Nggak yang biasa kita lihat di tivi-tivi, pesinetron itu rasanya pengen diremes-remes saja, masih kecil sudah cinta-cintaan. Sumpah, saya sampai menangis menontonnya, tidak ketawa seperti saat nonton Heart (baik movie maupun sinetron) di tivi atau nonton sinetron-sinetron murahan lainnya. Oh my gawd…. Ya Allah… setelah saya nonton film itu saya jadi malu. Malu sama diri sendiri karena anak-anak di film itu hebat banget, padahal masih kecil-kecil, malu sama penonton karena lewat-lewat di depan mereka sepanjang film.
Laskar pelangi yang super duper bagus itu bercerita tentang perjuangan 10 anak yang habis lihat pelangi dikasi nama laskar pelangi dalam membuat bangga guru-gurunya meskipun muridnya cuman mereka dan sekolah serta hidup mereka miskin (kalau yang lain dapat hikmah yang beda, luapkan!). Tokoh utamanya Bu mus, Pak Mus atau pak Hasan? serta sepuluh anak yang main character-nya Lintang atau ikal ya? Nggak tahu, saya nonton buta-buta, baru baca pembukaan novelnya. Yang teringat juga cuman ada satu anak yang ke sekolah bawa pensil jahit tapi waktu nonton anak itu nggak ketemu-ketemu.
Anak-anak ini sekolah di SD Muhammadiyah dan punya sekolah saingan SDPN BATUA eh salah SD PN TIMAH atau apa gitu… nggak ingat. Yang teringat cuman Mahar, Lintang dan Ikal. SD itu cuman punya sepuluh murid dan awalnya punya tiga guru. Pertama, Pak Hasan atau siapa gitu yang tipe saya banget (khu..khu…khu…). sayang di tengah jalan dia meninggal, saya hampir nangis saat itu. Bu Muslimah alias Bu Mus yang diperankan Cut Mini (orang keempat yang saya tahu selain Tora Sudiro, Mathias Muchus dan Oneng), guru yang sabar banget. Yang saya tangkap dia anak temannya pak Hasan. Dan yang terakhir Pak Bakrie, ini yang paling saya ingat karena namanya mirip guru fisika saya di SMA, yang akhirnya pindah ke SD lain. Murid-muridnya ada sepuluh, Lintang yang jenius banget. Saya nggak bisa lupa kata “minus 80”-nya. Benar-benar menyentuh. Ikal yang hobi berbunga-bunga. Karakternya lucu banget, jatuh cinta sama wanita dengan kuku tercantik di dunia!!!! Sampai sakit perut saya tertawa. A kiong atau A kyong? Si Chinese yang salah gerakan shalatnya. Mahar, yang paling banyak fansnya, teman saya, kakak saya, adik saya, saya, semua fans Mahar. Dia merupakan karakter yang tergolong unik. Harun, yang kayaknya cuman saya saja yang ngefans sama dia, seorang anak autis yang punya kaus kaki panjang banyak. Samson yang suka maksa orang pakai bola tennis di ****nya. Si gadis kepang pacarnya Harun, si hitam tukang siul, si ganteng kedua dan Cina lainnya. Nanti mereka dapat teman baru, Flo yang kaku yang maksa masuk sekolah setelah hilang di hutan.
Film ini benar-benar menghibur. Selain memberikan pesan-pesan yang sangat-sangat menyentuh dan penting, benar-benar pure penuh kebajikan. Saya paling suka adegan nyanyi lagu Bunga Seroja-nya. Ceritanya Ikal baru saja putus cinta ditinggal A Ling ke Jakarta, sepupu A kyiong yang menurut Ikal perempuan tercantik (muka dan kukunya?) yang pernah dia lihat. Laskar Pelangi pun menghibur Ikal dimulai dari Mahar yang menyanyikan lagu Kembang Seroja di padang ilalang yang berkembang jadi video klip ala India-india. Benar-benar bikin sakit perut karena ketawa, tariannya itu lho… lucu sekali! Must seen this!!! I must buy this DVD!!! Kembali ke reviewnya, banyak juga adegan-adegan menghibur seperti setiap kali Ikal membeli kapur, suasana hatinya sama seperti keadaan lingkungannya, bunga seroja bertaburan dan yang juga jadi ikon dalam film itu…. RHOMA! Bang Rhoma bak artis super duper terkenal kayak duo Jeremy Thomas-Adam Jordan di jaman Tersanjung masih berjaya dulu. Saya juga suka dengan karnavalnya dimana Ikal dkk mengambil tema tarian suku asmat, dan yang paling berkesan itu adalah lomba cerdas cermatnya. Lintang! Kamu IQ-nya berapa?! Rasanya mau berteriak BRAVO waktu dia berhasil menjawab soal yang super duper panjang nan rumit dari juri-juri (keras kepala). Jangan lupa Ikal yang menjawab pertanyaan tentang sastra dan Mahar yang (mau) menjawab pertanyaan tentang musik tapi beku saat difoto. Bukan salahnya, saya dulu juga kayak begitu.
Film ini sarat betul dengan nasehat. Pak Hasan meninggal dan membuat Bu Mus jadi putus asa dan meninggalkan murid-muridnya. Tapi Lintang dan Ikal nggak mau menyerah, mereka terus mau belajar dan akhirnya mereka mengumpulkan teman-temannya untuk kembali ke sekolah dan belajar sendiri. Kalau saya dulu, guru nggak masuk bak dapat undian berlibur ke Bali. Benar-benar saya merasa malu saat melihat adegan ini. Semangat belajar mereka sangat besar, mau miskin, mau guru nggak ada, mau sekolah bobrok, tetap harus belajar. Benar-benar…. Subhanallah….
Saya tidak bisa menahan air mata lagi ketika Lintang harus berhenti sekolah setelah ayahnya meninggal. Bayangkan, seorang anak yang super duper jenius harus berhenti di tengah jalan, benar-benar hal yang disayangkan. Inilah potret dari masalah pendidikan di negeri ini, mungkin di luar sana bahkan pasti ada orang-orang yang punya potensi tapi nggak bisa mengembangkannya karena kekurangan dana dan semacamnya. Semoga pemerintah mengambil hikmah dari film ini… amiiiin, eh semoga mereka nonton dulu…
Belum lagi adegan itu diperkuat dengan monolog Ikal dewasa, “Orang yang pertama kali datang ke sekolah, Orang itu pula yang pertama kali meninggalkan sekolah” (maaf kalau salah…). Tidak tahan saya, saya tidak tahan!!! Setelah filmnya habis, saya balik ke teman-teman dan mengkonfirmasi, “Aku nggak nangis kok, Cuma tersedu-sedu saja….” Padahal air mata sudah jatuh di pipi…. Ini film benar-benar sukses! Hidup anak-anak! Film begini harus dilestarikan, bukan film-film amoral dan nggak penting seperti yang biasa dibikin. Katanya demi pendidikan seks, mana ada anak kecil pergi ke rumah bodrir?! Mengajarkan hal-hal yang buruk saja!
Singkat kata, pokoknya film ini harus ditonton, kalau perlu beli bajakannya. Dijamin dua puluh ribu dan waktu mengantri Anda tidak sia-sia. Buat om Riri Riza, keep movin! Mahar, kapan lagi saya bisa lihat engkau? Makcik pakcik….. aaah, saya jadi demam bahasa melayu…. Sekian dulu review dari saya, kalau sinema Indonesia pakai system kancut dan bintang, saya pakai system kemeja dan sandal, saya kasih lima kemeja deh!
Oke, itu cuman sekedar pembukaan karena memang ini tidak bercerita tentang film-film itu. Saya mau mereview alias berkomen-komen ria seputar film baru buatan Riri Riza si moviemaker-nya Petualangan Sherina yang menurut saya film buatannya kali ini sukses bangeeeeeeeet!!!! Selain ceritanya bagus, pemerannya juga bagus. Nggak yang biasa kita lihat di tivi-tivi, pesinetron itu rasanya pengen diremes-remes saja, masih kecil sudah cinta-cintaan. Sumpah, saya sampai menangis menontonnya, tidak ketawa seperti saat nonton Heart (baik movie maupun sinetron) di tivi atau nonton sinetron-sinetron murahan lainnya. Oh my gawd…. Ya Allah… setelah saya nonton film itu saya jadi malu. Malu sama diri sendiri karena anak-anak di film itu hebat banget, padahal masih kecil-kecil, malu sama penonton karena lewat-lewat di depan mereka sepanjang film.
Laskar pelangi yang super duper bagus itu bercerita tentang perjuangan 10 anak yang habis lihat pelangi dikasi nama laskar pelangi dalam membuat bangga guru-gurunya meskipun muridnya cuman mereka dan sekolah serta hidup mereka miskin (kalau yang lain dapat hikmah yang beda, luapkan!). Tokoh utamanya Bu mus, Pak Mus atau pak Hasan? serta sepuluh anak yang main character-nya Lintang atau ikal ya? Nggak tahu, saya nonton buta-buta, baru baca pembukaan novelnya. Yang teringat juga cuman ada satu anak yang ke sekolah bawa pensil jahit tapi waktu nonton anak itu nggak ketemu-ketemu.
Anak-anak ini sekolah di SD Muhammadiyah dan punya sekolah saingan SDPN BATUA eh salah SD PN TIMAH atau apa gitu… nggak ingat. Yang teringat cuman Mahar, Lintang dan Ikal. SD itu cuman punya sepuluh murid dan awalnya punya tiga guru. Pertama, Pak Hasan atau siapa gitu yang tipe saya banget (khu..khu…khu…). sayang di tengah jalan dia meninggal, saya hampir nangis saat itu. Bu Muslimah alias Bu Mus yang diperankan Cut Mini (orang keempat yang saya tahu selain Tora Sudiro, Mathias Muchus dan Oneng), guru yang sabar banget. Yang saya tangkap dia anak temannya pak Hasan. Dan yang terakhir Pak Bakrie, ini yang paling saya ingat karena namanya mirip guru fisika saya di SMA, yang akhirnya pindah ke SD lain. Murid-muridnya ada sepuluh, Lintang yang jenius banget. Saya nggak bisa lupa kata “minus 80”-nya. Benar-benar menyentuh. Ikal yang hobi berbunga-bunga. Karakternya lucu banget, jatuh cinta sama wanita dengan kuku tercantik di dunia!!!! Sampai sakit perut saya tertawa. A kiong atau A kyong? Si Chinese yang salah gerakan shalatnya. Mahar, yang paling banyak fansnya, teman saya, kakak saya, adik saya, saya, semua fans Mahar. Dia merupakan karakter yang tergolong unik. Harun, yang kayaknya cuman saya saja yang ngefans sama dia, seorang anak autis yang punya kaus kaki panjang banyak. Samson yang suka maksa orang pakai bola tennis di ****nya. Si gadis kepang pacarnya Harun, si hitam tukang siul, si ganteng kedua dan Cina lainnya. Nanti mereka dapat teman baru, Flo yang kaku yang maksa masuk sekolah setelah hilang di hutan.
Film ini benar-benar menghibur. Selain memberikan pesan-pesan yang sangat-sangat menyentuh dan penting, benar-benar pure penuh kebajikan. Saya paling suka adegan nyanyi lagu Bunga Seroja-nya. Ceritanya Ikal baru saja putus cinta ditinggal A Ling ke Jakarta, sepupu A kyiong yang menurut Ikal perempuan tercantik (muka dan kukunya?) yang pernah dia lihat. Laskar Pelangi pun menghibur Ikal dimulai dari Mahar yang menyanyikan lagu Kembang Seroja di padang ilalang yang berkembang jadi video klip ala India-india. Benar-benar bikin sakit perut karena ketawa, tariannya itu lho… lucu sekali! Must seen this!!! I must buy this DVD!!! Kembali ke reviewnya, banyak juga adegan-adegan menghibur seperti setiap kali Ikal membeli kapur, suasana hatinya sama seperti keadaan lingkungannya, bunga seroja bertaburan dan yang juga jadi ikon dalam film itu…. RHOMA! Bang Rhoma bak artis super duper terkenal kayak duo Jeremy Thomas-Adam Jordan di jaman Tersanjung masih berjaya dulu. Saya juga suka dengan karnavalnya dimana Ikal dkk mengambil tema tarian suku asmat, dan yang paling berkesan itu adalah lomba cerdas cermatnya. Lintang! Kamu IQ-nya berapa?! Rasanya mau berteriak BRAVO waktu dia berhasil menjawab soal yang super duper panjang nan rumit dari juri-juri (keras kepala). Jangan lupa Ikal yang menjawab pertanyaan tentang sastra dan Mahar yang (mau) menjawab pertanyaan tentang musik tapi beku saat difoto. Bukan salahnya, saya dulu juga kayak begitu.
Film ini sarat betul dengan nasehat. Pak Hasan meninggal dan membuat Bu Mus jadi putus asa dan meninggalkan murid-muridnya. Tapi Lintang dan Ikal nggak mau menyerah, mereka terus mau belajar dan akhirnya mereka mengumpulkan teman-temannya untuk kembali ke sekolah dan belajar sendiri. Kalau saya dulu, guru nggak masuk bak dapat undian berlibur ke Bali. Benar-benar saya merasa malu saat melihat adegan ini. Semangat belajar mereka sangat besar, mau miskin, mau guru nggak ada, mau sekolah bobrok, tetap harus belajar. Benar-benar…. Subhanallah….
Saya tidak bisa menahan air mata lagi ketika Lintang harus berhenti sekolah setelah ayahnya meninggal. Bayangkan, seorang anak yang super duper jenius harus berhenti di tengah jalan, benar-benar hal yang disayangkan. Inilah potret dari masalah pendidikan di negeri ini, mungkin di luar sana bahkan pasti ada orang-orang yang punya potensi tapi nggak bisa mengembangkannya karena kekurangan dana dan semacamnya. Semoga pemerintah mengambil hikmah dari film ini… amiiiin, eh semoga mereka nonton dulu…
Belum lagi adegan itu diperkuat dengan monolog Ikal dewasa, “Orang yang pertama kali datang ke sekolah, Orang itu pula yang pertama kali meninggalkan sekolah” (maaf kalau salah…). Tidak tahan saya, saya tidak tahan!!! Setelah filmnya habis, saya balik ke teman-teman dan mengkonfirmasi, “Aku nggak nangis kok, Cuma tersedu-sedu saja….” Padahal air mata sudah jatuh di pipi…. Ini film benar-benar sukses! Hidup anak-anak! Film begini harus dilestarikan, bukan film-film amoral dan nggak penting seperti yang biasa dibikin. Katanya demi pendidikan seks, mana ada anak kecil pergi ke rumah bodrir?! Mengajarkan hal-hal yang buruk saja!
Singkat kata, pokoknya film ini harus ditonton, kalau perlu beli bajakannya. Dijamin dua puluh ribu dan waktu mengantri Anda tidak sia-sia. Buat om Riri Riza, keep movin! Mahar, kapan lagi saya bisa lihat engkau? Makcik pakcik….. aaah, saya jadi demam bahasa melayu…. Sekian dulu review dari saya, kalau sinema Indonesia pakai system kancut dan bintang, saya pakai system kemeja dan sandal, saya kasih lima kemeja deh!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sepatah Kata dari Pemilik Blog ini....
Thanks buat yang sudah mau melihat blog ini.
Thanks buat yang sudah mau mengunjungi blog ini.
Thanks buat yang sudah mau memberi komen di blog ini.
Thanks buat orang-orang yang ada di luar sana.
Jangan berhenti makan, nanti kurus!!!!
Thanks buat yang sudah mau mengunjungi blog ini.
Thanks buat yang sudah mau memberi komen di blog ini.
Thanks buat orang-orang yang ada di luar sana.
Jangan berhenti makan, nanti kurus!!!!
